Anti-Klimaks
Hm, lama tak mampir dimari. Setelah beberapa menit yang lalu melakukan password guessing yang benar-benar menjemukan.
Akhirnya, setelah sekian belas percobaan, bisa masuk juga.
....
Tampaknya banyak sekali kejadian-kejadian yang patut dipergunjingkan dimari, semenjak saya terakhir posting dimari.
Mulai dari sebuah ending anti-klimaks di jakarta, kisah love-story yang senetron banget, penjelmaan balita dalam wujud mahasiswa tingkat akhir, hingga ke-hectic-an tugas akhir. Dramatis, Kolosal, dan mengharukan.
Kisah berawal di september 2007 dimana hidup sudah semakin hiruk pikuk dengan pekerjaan yang semangkin ala kadarnya, Jakarta yang semakin penuh sesak, Jagoan yang tobat, dan segerombolan anak magang yang selalu ketinggalan kereta.
Tanggal 21 tinggal hitungan jari, terbayang sudah bagaimana kita bisa segera meninggalkan kota laknat ini. Waktu demi waktu pun kami habiskan dengan tanpa membuat banyak masalah dengan petinggi PT.M*****, lebih spesifik lagi, Nona M******. Sebuah orang yang malah justru memegang kartu nasib kita. Memang sudah bukan rahasia lagi perseteruan kami dengan nona tetek ngondoy tersebut memang cukup mengundang gelak tawa. Mulai dari ISU mie goreng, lemah fisik, penginapan, infleksibilitas, intolerir, hingga beberapa kebijakannya yang cukup membuat kami terlunta-lunta.
1,2,3,4,.....,19,20,21. *jeng! hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pagi hari terasa begitu segar, nyanyian burung-burung mengiringi langkah terakhirku ke sebuah kantor yang lebih mirip markas kaum sodom dan gomorah tersebut. Setibanya, kududuk di meja yang selama 4 bulan ini telah menjadi saksi bisu perjuangan kita yang mengharukan ini. Sebuah penantian panjang atas perjuangan 2 putra daerah yang hidup terinjak-injak di suatu sudut di ibu kota jakarta.
Pagi, itu dimulai dengan kehebohan rekan saya yang duduk di sebelah saya. Tampak, beliau yang sebelumnya dengan genitnya berkata, "uUggHhhH.. DoWnLoAd ApA yAH hARi iNi?" sekonyong menjadi pucat pasi, ketika laptopnya hanya mampu beroperasi skitar 1menit. Hampir setiap masuk ke login windows XP, laptopnya langsung ngehang. Wew! Dan hari pun semangkin siang, tampak orang di sebelah saya ini makin kesetanan. Mulai dari obeng, palu, hingga beberapa teknik juijitsu dihantamkan ke laptopnya yang tidak berdaya itu, sungguh brutal tiada tara.
Ketika, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Yap! masa penantian kita telah usai. Kita secara resmi sudah tidak terikat lagi dengan perusahaan yang namanya mirip nama komik tersebut. Sementara si jagoan di sebelah saya sudah lemas dengan aksi-aksi di siang hari tadi. Di tengah gegap gempita tersebut, sekonyong muncul seseorang yang tampangnya mirip kasuari albino, memberikan 2 buah amplop. tick.. tock.. tick.. tock.. waktu seakan bergerak slow motion. Kami yang sudah cukup lama memandangi amplop tersebut, memberanikan diri untuk membuka isinya, dan sontak ..... kami lemas. (klik disini untuk ikut melihat isinya).
Sungguh 4 bulan yang sia-sia, uang jutaan yang sia-sia. Hanya karena seseorang yang justru tidak pernah tau hasil pekerjaan kita. Penilaian subyektif? Bisa jadi.
Malamnya, lagi-lagi kami ketinggalan kereta terakhir kami, sehingga kami putuskan untuk naik bis. kami pun berjalan gontai menuju halte bis. satu menit.. sepuluh menit.. satu jam.. kami menunggu, setelah hampir semua bahan gunjingan kami obrolkan, akhirnya datang juga bis terakhir tujuan bekasi. Pukul 22.00, saya tiba di gerbang tol bekasi, saya pun berpisah dengan sang jagoan. Saya menunggu angkot di pertigaan metro, karena rumah masih jauh dari sini. satu menit.. sepuluh menit.. tiga puluh menit... angkot tidak kunjung datang. Bahkan, sempat juga berkenalan seorang mbak-mbak pegawai departement store yang cukup manis di halte sembari menunggu angkot. "Mas, kayanya angkot 01 udah abis deh.. naik ojek aja..." ujar mbak-mbak yang saya lupa namanya sebelum berpisah. Mau naik ojek, duitnya udah dipake beli mizone tadi. Akhirnya, kususuri jalan menuju rumah, sendirian, sepi, jauh, dan gelap. satu meter.. sepuluh meter.. satu kilo.. rasanya tubuh dan pikiran sudah benar-benar lelah. Untung saja, beberapa saat kemudian muncul angkot yang saya tunggu-tunggu sejak awal.
Dan sesampainya di rumah sekitar pukul 23.40 malam. Kususuri ruangan demi ruangan yang sudah gelap, kunaiki tangga menuju kamarku, belum juga masuk kamar tiba-tiba *tetet! new sms! ternyata pacarku minta putus. Kulompat ke kasur, menggelinjang hebat, dan tertawa terbahak-bahak. :)
Bayangan saya waktu itu:

Kantor PT.M***** beserta M****** di dalamnya.


3 Comments:
ahooyy...
benar2 kisah yang tragis, mengharukan...
pengalaman hidup yang berharga, bukan begitu, mister? :D
semangat!!!
selamat datang kembali di dunia per-blogging-an :D
http://renxe.wordpress.com
huhuhu.. ya, sebuah penantian berujung jatuh, tertimpa tangga, terkubur tanah, termakan rayap.
gondrong
ndungaknoe rekkk
tragis mat yahhh
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home